Selasa, 10 Mei 2011

akhir dari sebuah cerita cinta


 Akhir dari sebuah cerita cinta

‘Deb, ntar malam kita nonton bareng mau gak?”,
“Aduh gimana ya,…..mama aku pasti gak ngijinin dech”,
“Ya ampun sayang, kamu cari alasanlah…mau ibadah, mau ngerjain tugas atau apa. Masak gitu aja gak  bisa”,…
“ya udah, ntar aku hubungi kamu lagi gimana jadinya.
           
            Tuut…tuut…tuut… sambungan telepon pun terputus.

Dengan hati galau, debby meletakkan gagang teleponnya. Menarik nafas
 dalam – dalam, kemudian menghempaskan tubuhnya yang ramping diatas tempat tidurnya. Sembari menatap langit – langit kamarnya, dia menerawang jauh dan tiba – tiba  aja terlintas di benaknya ucapan ibunya tempoh hari.

“Debby sayang, mama gak pernah melarang kamu berpacaran. Tapi kamu harus tahu juga dong memilah – milah cowok mana yang pantas buat kamu,” hening sejenak kemudian ibunya melanjutkan pula
‘mama sich tahu, harry itu ganteng, tajir, dan pintar. Tapi perbedaan usia diantara kalian kan amat jauh. Masak kamu yang seorang sarjana muda hendak berpacaran dengan siswa SMA, itu mustahil namanya. Menurut mama, kalian berdua itu sungguh pasangan yang tidak seimbang,..”
“Tapi ma, Debby sangat mencintai Harry,….
”Debby, mama mohon untuk hal yang satu ini kamu jangan membantah mama. Tidakkah kau merasa kasihan pada mama mu yang janda ini,.. ?”
 Air mata Debby mengalir mendengar ucapan ibunya kala itu.………

Tok……….Tok………….Tok
Terdengar ketukan di pintu kamar Debby
Dengan sigap Debby meraih bukunya dan pura-pura sibuk belajar
”masuk ngak dikunci kok,”
daun pintu terkuak, dan ibu Debby muncul di depan pintu. “eh.. mama, Debby kirain Anggita, Ada apa ma?”
‘gak, cuma mau bilang ntar malam mama ada acara jadi pulangnya agak telat. Oh, iya kamu kerja gak hari ini?”
“gak ma ini kan hari libur,..oh iya ma, ntar malam debby juga mau keluar lho ada ibadah pemuda di gereja. Boleh ya ma?” Tanya debby penuh harap.
“boleh asal setelah ibadah kamu langsung pulang, kasihan Anggita sendirian.
dan satu hal lagi kamu gak boleh pergi bareng harry”, tambah ibunya dengan nada tinggi.
Dug,….jantung debby tersentak mendengar kalimat ibunya barusan.
“pastinya ma”, jawab debby dengan suara lirih.
                                                            ***
            sejak hari itu debby makin rajin membohongi ibunya. Kerap kali ia pamit pada ibunya untuk hal- hal yang berkaitan dengan kegiatan – kegiatan di gereja. Namun kenyataanya setiap waktu yang ada selalu di manfaatkannya untuk keluar bersama harry. Ibunya tidak pernah tahu hal ini, apalagi anggita.
“anak itu kan suka ngadu”, pikir debby suatu hari.

            Sama seperti hari – hari sebelumnya, hari ini debby kelihatan ceria. Karena harry mengajaknya lunch bareng di restoran favorit mereka berdua.
“deb, aku tuch sayang banget ama kamu”, kata harry memulai pembicaraan sambil menatap mata debby dalam – dalam.
Ukh,… jantung debby seolah berhenti berdetak di tatap seperti itu oleh pria yang amat di cintainya.
“aku juga sayang sama kamu har, tapi akhir – akhir ini aku sedikit risih dengan tatapan orang – orang di gereja kita. Mereka semua kan nggak setuju ama hubungan kita, terlebih mama aku”. Jawab debby lirih.
“sayang,… kamu jangan  peduliin apa tanggapan orang lain tentang hubungan kita. Toch yang menjalani hubungan ini kan kita berdua”.
Sembari meraih jemari debby, harry kemudian menambahkan “, kalau mengenai tante , aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan merestui hubungan kita. Asalkan kita bisa membuktikan kesungguhan cinta kita, percaya dech sama aku”.
“iya har, aku percaya. Tapi sampai kapan hubungan kita dalam ketidakpastian seperti ini?, apalagi…kamu masih SMA,..”
“ “sayang, kamu jangan berpikiran macam – macam gitu dong. Justru malam ini aku mau ngajak kamu dinner bareng, karena aku pengen bikin surprise buat kamu”, jawab harry dengan senyum penuh arti.
“hah,… surprise? Surprise apaan?”,
“makanya, kita makan dulu. Ntar baru ku jelasin ke kamu…
                                               
                                                ***

Tiada terasa sembilan bulan sudah usia pacaran  Debby dan Hary. Tepat pada malam sebelumnya Hary mengajak debby bertunangan.
 Mesti pertunangannya amat sederhana namun begitu bermakna dihati debby. Sambil tersenyum – senyum dia teringat bagaimana Hary melamarnya kala itu. Sehabis Dinner  di kafe yang cukup elit, Harry mengajaknya ketaman kota. Disebuah kursi bambu disudut taman kota sepasang kekasih itu mengikat janji saling setia. Dengan sikap layaknya seorang pangeran, Harry berlutut dihadapan Debby. Sembari mengangsurkan sebentuk cincin emas dihadapan debby harry berujar
“sayang, maukah kau berjanji untuk tetap setia pada cinta kita dan menjadi tunanganku mulai detik ini?”
Hening sejenak,…
Debby merasakan sekujur tubuhnya terasa dingin. Baginya, tiada saat yang lebih mencekam seumur hidupnya  selain daripada saat itu
waktu seolah berhenti untuk mendengar jawaban yang keluar dari bibir debby.
Entah mengapa tiba – tiba aja wajah ibunya terlintas di benaknya. Dia sangat tidak ingin manyakiti hati wanita yang telah membesarkannya itu. Namun ketika matanya kembali menatap mata Harry dan melihat seberkas ketulusan di mata itu, tiba – tiba aja rasa iba menyeruak di dalam hatinya. Debby tak kuasa menahan hasrat hatinya. Akhirnya, dengan terbata – terbata debby berkata “i...i..ya har, aku janji”,...aku akan setia pada cinta kita.
“hah,... beneran deb?” sorak harry dengan nada tidak percaya
Debby mengangguk lemah.    

Dengan sangat lembut, Harry meraih jemari debby dan menyematkan cincin di jari manisnya. Demikian pula debby  menyematkan cincin  di jari harry. Hati sepasang sejoli itu begitu bahagia malam itu. Mata debby kelihatan berkaca – kaca. Dengan mesra  harry merangkul debby sembari berbisik lembut di telinga nya “,deb, bulan, bintang, bahkan segenap alam raya menyaksikannya mulai malam ini cinta kita tidak akan terpisahkan”,….

Daarrr,..
Tiba – tiba aja lamunan debby buyar manakala seseorang menepuk bahunya, “hey, pagi – pagi udah ngelamun. Hayoo, lagi ngelamunin apa…?”
“ya ampun,…anggi ngagetin orang aja. Ketuk pintu dulu donk, masuk kamar orang seenaknya!” jawab debby dengan nada tinggi.
“ya elah,… dari tadi udah di ketok – ketok kamunya gak dengar- dengar trus aku masuk kamu malah ngelamun dan cengar – cengir di depan cermin. Atau,…
 jangan – jangn kamu lagi naksir ne sama seseorang, kasih tahu dong,”… rengek anggi
“nggak  kale… kamu jangan asal nuduh. Ya udah, to the point aja ada keperluan apa kamu masuk ke kamar aku? Mau pinjam majalah aku?” jawab debby dengan nada galak
“idih galak banget sich. Aku tuch kemari Cuma mau bilang kalo siang ini mau keluar. Ada acara bareng teman – teman. Ntar gak permisi sama kamu di marahi tante lagi. Ya udah aku cabut dulu ya”,…
“ya, hati – hati di jalan,” jawab debby sekenanya.

“yess,!!! Anggi gak di rumah, mama gak di rumah, boleh donk kencan ama harry,” sorak debby dalam hati.

                                                            ***

tiga bulan sejak pertunangan “rahasia” mereka, debby dan harry makin dekat seolah tidak terpisahkan. Bahkan beberapa orang yang tidak senang dengan kedekatan mereka mengatakan bahwa debby dan harry ibarat daki dan keringat (tragis ya!). dimana ada debby disitu ada harry, dimana ada harry disitu juga ada debby. Bahkan sedemikian dekatnya, sampai – sampai harry sudah tidak
segan – segan lagi main ke rumah tentunya jika mama dan sepupunya debby sedang tidak di rumah.

            Alhasil hubungan debby dan harry akhirnya tercium juga oleh ibunya harry yang memang sejak awal tidak merestui hubungan cinta mereka. Dengan marah nyonya ester, mamanya harry mendatangi pendeta dan meminta beliau untuk menegur debby selaku ketua pemuda di gereja itu. ..
Akhirnya, hari yang naas bagi nasib cinta debby dan harry pun tiba. Pendeta mengambil kebijakan untuk membicarakan masalah mereka berdua.
Di hadapan pendeta dan beberapa pengurus gereja, keduanya dipaksa untuk tidak menjalin kisah asmara lagi. Bagai disambar petir di siang bolong debby ketika mendengar keputusan tersebut. Air mata tak kuasa dibendungnya ketika terucap janji dari bibir pria yang amat dikasihinya itu.
“saya Harry watania, berjanji dihadapan Tuhan dan dihadapan saudara akan memutuskan debby sebagai kekasih saya,….”
Kalimat itu begitu jelas dan lancar mengalir seolah tiada beban di hati si pemilik suara itu.
Ingin rasanya debby menjerit dan  memberitahu semua orang apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka. Namun debby tidak sanggup . debby mengerti jika ibunya tahu hal itu , ibunya akan sangat malu. Bahkan, bukan tidak  mungkin ibunya akan dikucilkan dari pergaulan di lingkungan gereja. Dan… debby sungguh tidak sanggup menerima hal itu.
Dia sangat mencintai ibunya,…meski tidak sebesar cintanya pada pria yang kini mengkhianatinya….
Sakit memang….

                                                ***

            dengan tubuh limbung, debby tiba di rumah. Anggita, sang sepupu sedang asyik tidur – tiduran sambil membaca macalah kesukaannya. Tanpa  sepatah kata pun, debby langsung merebahkan diri disamping tubuh anggita. Melihat tingkah sepupunya yang aneh dan matanya yang sembab, anggita heran dan tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
“kamu kenapa deb, koq aneh gitu. Lagian mata kamu tuch sembab. Kamu habis nangis yach?”
“gak ada apa – apa koq gi. Semua fine aja koq”, jawab debby lirih
“gak…gak ,…gak mungkin. Kamu pasti lagi ada masalah. Ayo donk cerita ke aku, kali aja aku bisa Bantu. Biar gini – gini aku kan sepupu mu juga, kandung lagi.”
Mendengar ucapan anggi, Debby tersenyum pahit. “kenapa gak dari dulu kamu kayak gini ke aku gi”, rutuknya dalam hati.
“beneran gi, gak ada apa – apa ,…”
namun anggi terus saja mendesak debby. Akhirnya debby tak sanggup lagi menyimpan rahasia hatinya. Air mata pun mengalir deras di pipinya.

‘aku,…u…u..udah putus sama harry gi…” ucap debby terbata – bata
“harry?”, harry yang kakak kelas aku? Anaknya bu ester?”,…
“iya gi”, jawab debby lemah
mendengar penuturan debby barusan, hati anggi bagai di sayat sembilu. Wajahnya mendadak pucat pias. Namun debby yang sedang sekarat tidak memperhatikan perubahan wajah sepupunya itu. Dengan sekuat tenaga, anggi menahan perasaan yang bergolak dihatinya saat itu.

“ya ampun,… jadi emang bener kamu pacaran sama harry?” Tanya anggi
“iya gi,….a..a..ku gak sanggup buat ngelupain harry. Dia a..a.mat berarti bagi ku. Pa…pa..dahal aku tahu di..dia hanya se..seorang bocah yang sok ro..romantis di hadapanku. A…ku bener – bener butuh teman gi. Se..se.lama ini mama se..lalu sibuk de..dengan bisnisnya. Kamu sibuk de…dengan sekolah mu. Ha..hanya ha..harry yang selalu me..me..menemani hari – hari ku gi. Aku gak ber..berdaya buat ngelupain dia,..”
“non, berpikirlah yang realistis. Emang gak ada cowok lain selain harry. Wajah kamu tuch cantik lagi. Gampang banget buat kamu untuk ngedapetin cowok yang lebih dari harry. Please,…kamu jangan sedih lagi,…” hibur anggi.
“aku tahu nggi, tapi masalahnya….masalahnya,….”
“masalahnya apa deb?”
“masalahnya,…kamu gak bakalan ngerti gi,….ka..ka..kamu gak bakalan ngerti..,”
“ya ampun deb, kamu ceritain aja…aku janji bakalan ngerti perasaan kamu,..”
“ini gak sesederhana yang kamu pikirkan gi,…aku udah ,…a..ku ..udah ML sama harry, puas kamu gi,…huk,…huk…,” tangis debby kembali pecah.
Mendengar penuturan debby barusan, tubuh anggi serasa limbung. Namun dia berusaha untuk kelihatan tegar dihadapan debby.
“udah deb, kamu tenang dulu,…”
“gak gi,….aku udah gak punya masa depan lagi. Se..semua udah aku serahin ke Harry, yang aku se..salin,.harry sedikit pun ga ,be…berusaha..un..tuk mem..per..juangkan..ci…cinta..ka..mi ,..aku..nyesal…gi,..aku udah gak penting lagi untuk hidup gi,…”
“gak, itu gak bener deb. Kamu masih punya masa depan. Masih banyak orang yang membutuhkan kamu. Salah satunya, ya aku ini”. Hibur anggi
“ta..tapi gi, gak bakalan ada lagi pria yang ma..mau jadi suami a..ku,..”
“kata siapa deb,…” sembari merangkul debby, anggi kemudian menambahkan “aku yakin suatu saat nanti kamu bakalan bisa menemukan pria yang benar – benar mencintai kamu apa adanya,……”
kata anggi berusaha menenangkan debby meski dia gak yakin sepenuhnya dengan kebenaran kata – katanya.
“la,..la..lagian aku gak tahu gi..ma.na nyeritainnya ke ma..ma. aku pa..pasti udah bikin mama kecewa,..aku memang anak du..dur..haka gi,..,” isak debby
“udah deb, kamu tenang aja. Semuanya pasti baik – baik aja,”
“gi, kamu mau gak janji kalau kamu gak bakalan certain ini ke mama walau apapun yang terjadi?” Tanya debby penuh harap
“iya deb, aku janji,”jawab anggi setengah yakin.
                                               
                                                            ***

           

Malam itu, disebuah kafe ditengah kota terlihat sepasang remaja sedang duduk berdua di salah kursi di pojok ruangan. Kelihatannya ada hal yang amat penting yang sedang mereka perbincangkan. Jika dilihat lebih seksama, maka nyatalah bahwa sepasang remaja itu tak lain adalah Anggi dan Harry.

‘Har, aku bener – bener gak nyangka kamu tuch tega ya,..”
‘sayang,..aku kan udah jelasin semuanya ke kamu. Semua terjadi benar – benar di luar kendali aku. Aku emang sangat mencintai Debby, tapi itu dulu sebelum ketemu kamu. Finally, kamu hadir dalam hidup aku, kamu ngegemesin. Aku teramat bahagia waktu kamu mau menerima aku jadi pacar kamu. Tapi kamu terlalu dingin Gi. Aku tuch ngerasa kesepian, tiap hari kamu sibuk dengan kegiatan ekskul kamu tanpa pernah peduli perasaan aku,…hhh,..lagian…,”
“alasan!, kenapa selama ini kamu gak jujur aja sama aku. Trus,..trus kenapa harus sepupu aku yang kamu jadiin korban, pake acara ML lagi, kenapa Har! Kenapa kamu tega nyakitin aku dengan cara kayak gini,…,” ratap anggi
“gi, please jangan nangis gitu, malu diliatin orang – orang,…”
“biarin, biarin aja semua orang tahu kalau kamu tuch cowok yang gak punya moral. Aku benci sama kamu har!,” jerit anggi yang diikuti oleh tatapan aneh dari semua pengunjung kafe.
“gi, ini gak seperti yang kamu bayangkan. Bukan aku yang memulainya gi, tapi debby. Percaya sama aku gi,…”
mendengar ucapan harry barusan, darah anggi serasa mendidih. Refleks, sebuah tamparan milik anggi mendarat di pipi harry.
“oh, jadi sekarang mau nyalahin sepupu aku, dasar cowok brengsek. Aku gak mau lagi liat muka kamu!” dengan segenap kemarahan yang memuncak anggi bangkit berdiri lalu dengan serta merta menyiramkan sebotol softdrink ke wajah harry seraya berujar “ rasain nich cowok brengsek, dasar gak punya moral !”
lalu anggi beranjak meninggalkan harry yang sibuk mengusap – usap pipinya yang terasa sakit dan acuh tak acuh dengan ucapan anggi barusan. Dengan wajah tidak bersalah, harry melangkah menuju meja kasir sebelum akhirnya beranjak meninggalkan tempat tersebut.

           
            Sudah seminggu ini kesedihan menyelimuti rumah yang terletak di jalan melur no. 150 E itu. Pemilik rumah yang tidak lain adalah Ny. Marti, ibunya debby kelihatan amat terpukul dengan tragedi yang menimpa salah satu anggota keluarganya. Ini berawal dari penemuan polisi di sebuah kursi bambu di sudut taman kota. Disana terbujur kaku sesosok mayat wanita yang diduga meninggal akibat bunuh diri dengan cara memotong urat nadinya. Hal ini terlihat jelas dari darah yang mengalir di pergelangan tangan wanita tersebut.
            Setelah di usut, ternyata wanita tersebut tak lain adalah Debby, putri sulung Ny. Marti. Seluruh anggota keluarga begitu terpukul menerima kenyataan tersebut. Bahkan Ny. Marti beberapa kali tak sadarkan diri karena tidak sanggup menerima kematian putri bungsunya. Apalagi pada saat kematiannya, Ny. Marti sedang berada di luar kota. Dia mendengar kabar tersebut dari sms singkat yang di kirim oleh anggita. Rasa bersalah semakin menggerogoti jiwanya manakala di sadarinya kalau dia begitu melalaikan debby hingga pada saat ajal menjemput debby, dia tidak berada di sisinya.
Sementara itu,…
Dikamarnya, anggita kelihatan termenung. Sesekali air mata bergulir di pipinya. Dia merasa amat kehilangan debby. Baru sebentar keakraban yang di jalinnya, debby udah pergi meninggalkannya ke negeri yang amat jauh untuk di seberangi. Anggi semakin merasa bersalah apabila mengingat pengakuan Harry di kafe tempo hari. Anggi merasa dirinyalah sumber petaka yang menyebabkan kepergian sepupunya. Hubungannya dengan harry adalah sebuah rahasia yang tidak pernah di ketahui debby hingga akhir hayatnya. Hanya satu hal yang di tinggalkan debby di buku hariannya sehari sebelum kematiannya. Sebuah tulisan yang mengungkapkan isi hatinya,
Begini bunyinya,…

Dear diary,…
Mungkin ini akan jadi goresan terakhir tentang hidup ku dalam lembaran manis mu. Aku udah nggak sanggup lagi untuk  menjalani kisah ini. Aku tahu ini semua salah ku. Karena aku terlalu mencintainya sehingga cinta kepada nya lebih besar daripada cinta ku kepada-NYA. Ingin aku bersujud di antara langit dan bumi untuk memohon ampunan NYA atas kesalahan ku yang satu ini. Namun aku tidak begitu yakin apakah pintu itu masih terbuka untukku.

Di, hanya satu hal yang ku pinta pada mu. Besok  kala mentari muncul di pagi hari dan kau menghirup udara baru pada lembaran kisah mu, ku mohon jangan beritahukan pada mama semua kisah tentang cinta yang telah ku torehkan pada mu. Bahkan, sekalipun jika raga ku sudah turun ke dunia orang mati. Karena ku tahu kala sang surya menyinari bumi,aku sudah tidak akan berada di sini lagi. Mungkin aku sudah pergi melayang di tengah kebisuan untuk beristirahat dari segala kejenuhan yang ku alami akibat ejekan dan caci maki teman – teman dan orang – orang yang selama ini dekat denganku dan akibat kekecewaan ku atas nama cinta.

Di, jika kau bertanya dimana tempat peristirahatan yang akan ku pilih di akhir hidupku,.. hm..sulit untuk mengatakannya. Namun sebagai hadiah atas pengabdianmu selama ini, aku akan memberitahukannya.. aku akan merasa amat tenang bila dapat beristirahat di kursi bambu di sudut taman kota. Dimana bulan, bintang, dan segenap jagad raya menjadi saksi atas pengkhianatan cinta. Tempat dimana pertama kali aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat sama seperti kebahagiaan yang ku alami hari ini, kau tahu kenapa?
Ya, karena aku telah mengorbankan diri ku untuk cinta
Hanya untuk cinta,…
Anggi memeluk erat buku harian itu di tangannya. Dengan lirih ia bergumam, “deb, aku gak pernah nyangka nasib cinta mu bakal berakhir seperti ini. Kini ada dua rahasia besar yang harus ku pikul akibat kepergian mu. Rahasia cinta ku dengan harry dan rahasia kepergian mu pada tante. Bantu aku deb,….”

            Kursi bambu di sudut taman kota, kini menjadi saksi bisu bagi sebuah kisah cinta Yang telah usang, bahkan teramat usang


cerita diatas adalah cerpen yang aq buat pas semester I.  sebagian isi cerita ne diinspirasi oleh kisah nyata seorang teman, so i hope you enjoy it and make it as an experience of life.

0 komentar:

Poskan Komentar

please, leave comment

Sample Text

Text Widget

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow by Email

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto saya
i'm a beautifull girl and has a wonderful future,... love it!!!

Daily Calendar

Pengikut

Recent Posts

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Download

Ada kesalahan di dalam gadget ini